Selain kegiatan mengajar, pengalaman paling berkesan lainnya adalah saat membantu warga membangun MCK (Mandi, Cuci, Kakus) pada program KKN Temarik ”Sasagara” 2025. Bagi sebagian orang di kota, keberadaan MCK mungkin hal yang biasa dan sering dianggap remeh. Namun di desa tempat kami mengabdi, fasilitas sanitasi sangat terbatas. Sebagian warga bahkan masih kesulitan mendapatkan tempat layak untuk mandi, mencuci, maupun buang air. Kondisi ini sering menimbulkan masalah kesehatan, mulai dari gangguan kebersihan diri hingga penyakit yang dipicu oleh lingkungan kurang sehat
Melihat kondisi itu, kami bersama warga berinisiatif membangun sebuah MCK sederhana namun layak pakai. Pagi itu, udara pegunungan terasa dingin, tetapi suasana penuh semangat. Kami mengenakan rompi biru bertuliskan “SASAGARA – KKN TEMATIK POLBAN 2025.” Kayu, bambu, semen, dan peralatan sederhana sudah disiapkan. Tidak semua dari kami terbiasa dengan pekerjaan bangunan, tetapi kami belajar langsung dari warga yang berpengalaman. Ada yang mengangkat kayu, ada yang memaku, ada yang menahan tiang, sementara yang lain menyiapkan adukan semen.
Yang membuat pengalaman ini begitu berkesan adalah suasana gotong royongnya. Mahasiswa dan warga bekerja tanpa sekat, semua berbaur. Kami menyadari bahwa yang kami lakukan bukan hanya membangun sebuah bangunan, tetapi juga membangun harapan akan kehidupan yang lebih sehat dan layak—hak dasar yang sering terlupakan.
Saat melihat kerangka MCK mulai berdiri, ada rasa bangga sekaligus haru. Peluh yang bercucuran, tangan yang kotor oleh semen, dan badan yang pegal seakan terbayar lunas. Kami tahu bahwa MCK ini akan sangat bermanfaat bagi warga desa dalam meningkatkan kesehatan dan kenyamanan hidup mereka. Bagi saya, pengalaman membangun MCK ini adalah pelajaran berharga tentang arti kepedulian dan aksi nyata. Tidak cukup hanya merasa prihatin melihat kondisi masyarakat, tetapi perlu ada tindakan konkret untuk membantu memperbaikinya.
__________________________________________________________________________________
Pengalaman saya bersama SOSMA memberikan banyak hikmah dan pelajaran berharga. Saat mendampingi anak-anak belajar di ruang kelas sederhana, saya benar-benar menyadari bahwa pendidikan adalah kunci utama perubahan hidup seseorang. Anak-anak itu datang dengan penuh semangat, meski ruang kelas mereka jauh dari kata ideal. Mereka tidak memiliki fasilitas belajar modern seperti di kota, tetapi rasa ingin tahu mereka begitu besar. Dari situlah saya belajar bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal gedung megah, buku baru, atau teknologi canggih, melainkan soal kemauan dan kesempatan.
Begitu juga saat membangun MCK bersama warga, saya memahami bahwa kepedulian sosial tidak boleh berhenti pada rasa simpati saja, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Bagi kita di kota, MCK mungkin sesuatu yang biasa, namun di desa ini fasilitas sanitasi yang layak adalah hal yang sangat berharga. Bangunan sederhana itu bukan hanya sekadar dinding dan atap, melainkan simbol harapan akan kehidupan yang lebih sehat, bersih, dan bermartabat.
Lebih jauh lagi, kebersamaan yang terjalin selama kegiatan membuat saya semakin yakin bahwa gotong royong adalah kekuatan besar yang dimiliki bangsa kita. Saat mengajar, setiap orang punya peran: ada yang bercerita, ada yang mendampingi, ada yang mengarahkan permainan. Saat membangun MCK pun sama: ada yang memotong kayu, ada yang menyiapkan adukan semen, ada yang menahan tiang agar tetap tegak. Semua orang berkontribusi, tidak ada yang dianggap lebih tinggi atau lebih rendah. Dari sinilah saya belajar bahwa perubahan besar hanya bisa terwujud jika kita mau bekerja sama, saling mendukung, dan saling menghargai.
Kesederhanaan hidup masyarakat desa juga mengajarkan arti syukur. Anak-anak bisa tertawa lepas meski hanya bermain dengan kertas sederhana. Warga begitu bahagia saat melihat kerangka MCK berdiri, padahal bagi kita di kota fasilitas seperti itu sudah dianggap hal biasa. Dari mereka, saya belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari kemewahan, melainkan dari rasa cukup dan kebersamaan.
Dan pada akhirnya, saya memahami bahwa dalam setiap kegiatan sosial, proses memberi sejatinya juga berarti menerima. Kami datang dengan niat untuk berbagi ilmu dan tenaga, tetapi yang kami terima justru lebih banyak: pelajaran hidup, rasa kekeluargaan, pengalaman baru, dan kehangatan dari masyarakat yang penuh ketulusan. Ketika kita tulus membantu orang lain, sebenarnya kita sedang membantu diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih peka, lebih bersyukur, dan lebih peduli.
Dari semua pengalaman ini, saya menyimpulkan bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar kewajiban organisasi, melainkan panggilan hati. SOSMA tidak hanya mengajarkan bagaimana cara membantu, tetapi juga bagaimana memahami, merasakan, dan tumbuh bersama masyarakat. Itulah hikmah terbesar yang saya bawa pulang: bahwa ilmu dan tenaga yang kita miliki akan lebih bermakna jika digunakan untuk memberi manfaat bagi sesama.
Menjadi mahasiswa bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga tentang seberapa besar kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Pada akhirnya, inilah esensi sejati dari menjadi bagian SOSMA: belajar dari masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan tumbuh untuk masyarakat. #PanjangUmurPengabdian